KOMPAS.com – Jumlah sperma ikut menentukan kualitas kesuburan seorang pria. Seorang pria dianggap subur bila ia memiliki lebih dari 20 juta sperma per milimeter cairan mani. Agar kuantitas sperma tetap terjaga, sebaiknya calon ayah mengurangi konsumsi kedelai.

Penelitian yang dilakukan terhadap 99 pria yang bermasalah dengan kesuburan menunjukkan, mereka yang mengonsumsi makanan berbahan kedelai setiap hari, mengalami penurunan jumlah sperma.

Hal tersebut disebabkan karena senyawa kimia yang disebut isoflavon yang ada di dalam kedelai. Isoflavon mirip dengan hormon estrogen. Meningkatnya jumlah estrogen akan membuat persentase lemak tubuh meningkat (itu sebabnya wanita memiliki lemak tubuh lebih tinggi). Padahal, berat badan berlebih akan menyebabkan berkurangnya kesuburan.

Selain itu, kedelai juga diketahui bisa mengurangi penyerapan zinc oleh tubuh. Bagi pria yang sedang merencanakan kehamilan, zinc sangat dibutuhkan untuk meningkatkan jumlah sperma dan kadar hormon testoteron.

Kendati demikian, bukan berarti semua makanan berbahan kedelai harus dihindari. Yang penting adalah menjaga agar jumlah kedelai yang dikonsumsi tidak berlebihan. Pasalnya, sejumlah studi yang meneliti kaitan antara kedelai dan kesuburan menunjukkan penurunan jumlah sperma bila kedelai yang dikonsumsi berlebihan.

Sebagai contoh, dalam sebuah studi terhadap mencit menunjukkan, konsumsi kedelai dalam jumlah rendah (sekitar 2mg/kg berat badan) selama 90 hari, tidak menyebabkan pengurangan sperma. Baru setelah dosisnya ditambah menjadi 20 mg/kg atau 100 mg/kg, terjadi pengurangan.

Untunglah kadar kedelai dalam makanan tidak terlalu tinggi. Sebagai contoh 1 cangkir susu kedelai mengandung 30 mg, 1/2 cup kacang kedelai mengandung 47 mg, tempe sekitar 37 mg, serta tahu 20 mg. Jadi, bila berat Anda kira-kira 79 kilogram, maka pengurangan jumlah sperma baru terjadi bila Anda mengonsumsi sektiar 1.600 – 8.000 miligram kedelai.