Sejarah mencatat bahwa bangsa Romawi sebagai bangsa yang sangat makmur dan sejahtera karena peradaban maju. Tetapi mengapa bangsa Romawi bisa hancur? Para ahli lingkungan hidup mengatakan bahwa kehancuran bangsa Romawi dikarenakan perilakukmasyarakatnya yang senang minum anggur dari cawan yang terbuat dari timbel dan melakukan proses fermentasi dengan menggunakan wadah dari timbel. Hampir sama dengan bangsa Romawi, bangsa Indonesia secara tidak sadar mengumbar timbel yang terkandung dalam bahan baker minyak ke udara lewat proses pembakaran pada kendaraan bermotor danmesin-mesin penggerak. Maka tak dapat dihindari bahwa setiap hari polusi udara di Indonesia semakin gawat, terlebih-lebih di Jakarta dan kota-kota besar dan padat lainnya. Lain halnya kalau kita tinggal di desa yang masih asri pemandangannya dan udaranya masih bersih.

            Setiap hari pasti kita semua bisa menyaksikan kendaraan yang mengepulkan polusi ke udara, maupun pabrik-pabrik yang seenaknya membuang partikel berbahaya ke udara. Sebenarnya rumah tangga setiap hari juga mensubsidi pencemaran udara yaitu kegatan memasak dan menjalankan pendingin udara maupun lemari es yang masih menggunakan CFC atau Freon. Karena udara yang sudah tercemar bisa dibilang mustahil untuk dibersihkan, maka dari diri sendirilah mencoba untuk memulai meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai kesehatan, termasuk kesehatan lingkungan, demikian menurut Ahmad Safrudin (Sekjen Mitra Emisi Bersih atau MEB dan Koordinasi Komite Pemberantasan Bensin Bertimbel atau KPBB).

            Menurut penelitian terbaru, pensubsidi polusi udara untuk kategori partikel debu dan nitrogen dioksida, 70% berasal dari kendaraan bermotor, 25% dari industri, dan 5% dari rumah tangga. Sedangkan untuk hidrokabon yang banyak terdapat di pinggir jalan, hampir 90% disubsidi oleh kendaraan bermotor, begitupula sulfur dioksida, karbon monoksida, dan yang terberat Pb atau timbel, paling banyak disubsidi kendaraan bermotor yang beroperasi. Yang menjadi momok sekarang ini adalah timbel karena merusak kesehatan dan masa depan bangsa, terlebih pada anak-anak (Ahmad, Nakita, 11 Juni 2005).

            Untunglah, hingga kini, kondisi udara Indonesia masih berada jauh di atas toleransi ambang aman yang ditetapkan WHO, yaitu tak ada batas ambang aman/treshold level untuk pencemaran logam berat/Pb. Dengan kata lian, pencemaran logam berat di udara seharusnya ). Kontaminasi timbel di atas 10 mg, dapat menurunkan IQ anak-anak hingga 2,5 poin, menyebabkan anemia, kesulitan belajar, autisme, menurunkan daya control emosi, menaikkan agresivitas, dan memicu sikap antisocial. Itu karena timbel bersifat neorotoksit (meracuni saraf) dan jika sudah masuk ke dalam tubuh manusia cenderung tidak bisa dikeluarkan lewat metabolisme tubuh.

            Selain itu, ia juga dapat menyerang semua organ tubuh. Saat mencapai tenggorokan atau paru-paru akan menyebabkan iritasi dan ketika berbaur dengan darah akan mengganggu distribusi oksigen ke seluruh tubuh. JIka sudah sampai ginjal akanmengganggu fungsi ginjal. Efek jangka panjangnya bisa menimbulkan kanker, kegagalan fungsi organ tubuh hingga munculnya penyakit-penyakit yang tadinya tak diketahui.

            Mengerikan juga yach!!! Oleh karena itu, segeralah melakukan hal-hal yang dapat mengurangi pencemaran udara agar tidak bertambah parah, sebab kalau untuk menormalkan kondisi udara sekarang ini, sepertinya sudah tidak mungkin. Ahmad memberikan 5 langkah peningkatan kualitas udara:

  1. Pakai bahan bakar bebas timbel

Sayang sekali, di Indonesia penggunaan bensin premium bebas timbel baru di Jabotabek, Bali, Cirebon dan Batam. Untuk solar, kadar belerangnya masih di atas 3000 ppm.

        2. Pakai kendaraan yang ramah lingkungan alias rendah emisi

    Disinilah perlu adanya kerja sama antara pihak pemerintah, produsen dan masyarakat. Pemerintah tidak mengeluarkan bensin bertimbel, produsen mobil tidak menjual kendaraan berteknologi kuno, sedangkan konsumen diberi pilihan : mobil A baru, bagus, murah tapi menggunakan teknologi usang atau pilih mobil B baru, bagus sekali, mahal dan menggunakan teknologi ramah lingkungan berstandar euro 2,3 atau 4. Jika belum mampu, ya pakai kendaraan umum aja atau kalau mau lebih aman dan bebas BBM ya pakai sepeda.

            3.Terapkan traffic and transport management

      Pengelolaan lalu lintas dan transportasi harus memperbanyak jalur hijau, baik di dalam kota, luar kota, di pinggir jalan, di jalur pembatas ruas jalan maupun di depan rumah. Pemerintah juga harus mampu mengatur arus lalu lintas supaya tidak macet.

               4. Penegakan hokum yang tegas

      Jika melihat kendaraan motor yang tidak laik jalan, mengeluarkan emisi yang tinggi dan mengeluarkanm asap akibat pembakaran solar maupun bensin tipe premium, pertamax dan pertamax plus, maka pengemudinya mesti dikenai sanksi.

              5. Perketat standar emisi

      Kondisi lingkungan kita, khusunya udara, akan lebih baik jika pemerintah dan pihak terkait menerapkan standar emisi secara ketat. Maka yang diperlukan adalah evaluasi dan revisi setiap 5 tahun mengenai hal ini. Kaitannya dengan penemuan teknologi yang ramah lingkungan sangatlah erat. Jika standar emsii dipenuhi maka bisa diperoleh udara yang bersih dan segar..

       

       

      (Nakita, 11 Juni 2005)