Dalam menjalani kehidupan, setiap orang membutuhkan makanan sebagai bahan bakarnya sehingga dapat beraktivitas dengan baik dan lancar. Namun, pada kenyataannya, sekarang ini kondisi lingkungan telah tercemar sehingga apakah dijamin bahwa bahan pangan yang segar alami ataupun cepat saji aman untuk disantap? Bingung juga ya……berarti kita harus benar-benar bisa memilih bahan pangan mana yang aman untuk dimakan. Maka pentinglah bagi kita untuk mengetahui asal-usul makanan yang akan dikonsumsi demi menghindari zat-zat berbahaya seperti logam berat dan pestisida.

            Sayang justru disinilah masalahnya. Menurut Prof. Dr. Ir Ali Khomsan (dalam tabloid nakita), ahli gizi dari IPB, tidak mudah untuk melacak asal usul bahan pangan di pasaran guna mendeteksi apakah aman atau tidak. Dan tidak ada orang yang tahu apakah racun dalam masing-masing bahan makanan yang dimakan bisa hilang atau tidak dalam proses pencucian dan proses memasak.

            Paling tidak, yang dapat dilakukan adalah berhati-hati dalam memilih dan membeli makanan. Seperti sayuran dan buah-buahan yang akan dikonsumsi telah dicuci dengan air mengalir.Ini dimaksudkan untuk mengurangi peluang kontaminasi pestisida atau jasad renik pada sayuran dan buah-buahan.

            Bahkan, sebagai orang tua, kadang-kadang melarang anaknya untuk membeli makanan pada pedagang di pinggir jalan. Soalnya, tidak mustahil pedagang menggunakan pewarna tekstil agar makanannya berwarna mencolok. Selain itu keungkinan besar makanan itu terkontaminasi oleh asap knalpot kendaraan yang lalu lalang atau debu yang beterbangan sehingga keamanan makanan itu patut dipertanyakan.

            Namun, kenyataannya amat sulit membedakan bakso yang mengandung boraks atau tidak. Sebab kekenyalan bakso bisa saja disebabkan kandungan daging yang cukup banyak dan bukan lantaran kandungan boraks.Juga dibutuhkan kejelian pula untuk mengetahui mi dan tahu yang kita santap bebas dari kandungan formalin yang jelas dilarang sebagai pengawet makanan.

            Menurut Ali, ada bebrapa trik yang bisa diusahakan untuk meminimalkan resiko bahaya pangan, antara lain :

IKAN

            Pilih daging yang masih kenyal tidak lembek, mata terlihat merah cerah, insang segar dan tidak mengeluarkan bau busuk. Sebagai satu-satunya hewan yang boleh dimakan dalam keadaan mati / bangkai,ikan amat berpeluang menyebabkan penyakit pada manusia. Apalagi bila ikan tersebut hidup di perairan yang keruh dan tercemar logam berat. Jika sampai dimakan ibu yang sedang hamil, meskipun sudah dimasak  secara benar, bukan tidak mungkin menyebabkan kecacatan pada janin.

            Untungnya, sebagian hewan yang hidup di air mampu dengan baik melakukan metabolisme atau mengurai zat berbahaya dalam tubuhnya. Bila hewan jenis ini terkonsumsi, maka kemungkinan besar amanlah si konsumen. Tapi bila yang dimakan adalah hewan yang bersifat menumpuk racun dalam tubuhnya, maka jelas berbahaya.

            Contohnya kerang yang memiliki kemampuan sangat bagus untuk melahap segala bentuk pencemaran, terutamalogam berat. Itulah yang menyebabkan kerang bisa hidup di perairan yang buruk sekalipun. Bila kerang tersebut dikonsumsi, maka logam berat yang bertumpuk dalam tubuhnya jelas membahayakan manusia sebagai konsumennya.

DAGING

            Indikasi daging yang masih baik untuk dikonsumsi adalah daging yang masih kenyal, berwarna merah segar dan tidak terlihat layu.Sayangnya, untuk mengetahui apakah daging tersebut aman dari penyakit kuku dan mulut, sapi gila, atau flu burung, sulit dideteksi secara kasat mata. Apalagi penyakit sapi gila sebenarnya merupakan bagian dari protein yang berubah fungsi dan bukan karena mikroba atau hewan bersel satu.

            Lain halnya jika kita menyembelih ayam sendiri, bisa diamati apakah ayam itu sebelumnya sakit atau tidak. Kalau sakit, sebaiknya tidak usah dikonsumsi terlebih  jika mengidap zoonosis (penyakit hewan yang bisa ditularkan pada manusia). Untuk penyakit tetelo, daging hewan penderitanya masih bisa dikonsumsi asalkan melalui proses perebusan atau penggorengan daging matang dalam dan luar untuk mematikan kuman penyebabnya.

            Mengenai bau, selain bau busuk, memang sulit diandalkan. Ketidakamanan daging justru terletak pada proses “pembusukan” yang disengaja pada saat daging tersebut dibuat daging olahan. Campuran bahan tertentu seperti pengawet, ataupun boraks yang bisa mempertahankan kekenyalan daging,maupun penggunaan nitrit yang berfungsi untuk membunuh bakteri atau mikroorganisme bisa sangat merugikan orang yang mengkonsumsinya. Nitrit dapat terakumulasi dalam tubuh dengan menjelma sebagai nitrosamine yang memicu kemunculan tumor dan kanker. Akan tetapi tingkat bahaya nitrit ini dapat ditekan, asalkan setiap industri mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan berupa batas maksimal nitrit yang boleh dicampurkan dalam daging.

SAYURAN

            Sayuran ini sangat mungkin untuk terjadi ketidakamanan. Sebab dari proses produksi sampai siap santap di meja makan, dalam perjalanannya bisa terimbas pengaruh lingkungan polutan. Hal ini akan tampak nyata pada sayuran yang tidak dimasak atau dijadikan lalapan. Padahal selama di kebun bisa jadi sayuran umumnya dirawat dengan semprotan pestisida untuk mencegah gangguan hama. Bila penyemprotan dilakukan pada saat panen, maka akan sangat membahayakan konsumen yang gemar makan lalapan. Belum lagi resiko tertinggi terkontaminasi jasad renik, seperti telur cacing gelang. Ironisnya, kegemaran petani menyemprotkan pestisida justru diyakini masyarakat bahwa sayuran yang mulus malah pertanda kurang baik karena itu berarti mengandung banyak pestisida sehingga ulat tidak berani menempel.

Kontaminasi sayuran di kota-kota besar terutama di pinggir-pinggir jalan, jelas lebih besar dibandingkan sayuran yang ditanam petani di pegunungan. Sebab industri yang memperbesar peluang tercemarnya tanah dan sungai., dimana sering dimanfaatkan oleh petani sayur di kota-kota besar karena keterbatasan lahan dan air. Kandungan logam berat dari lahan dan air yang tercemar dengan sendirinya menempel pada sayur tersebut yang selanutnya menjadi santapan konsumen.

            Sayuran yang terkontaminasi timbale dari sisa-sisa buangan knalpot mobil bila dikonsumsi secara terus menerus menyebabkan terakumulasinya jenis logam berat ini dalam tubuh. Seseorang akan mengalami keracunan zat ini bila kandungannya dalam darah mencapai 100-120 ug/dl. Gejalanya yang kha adalah konstipasi atau sulit buang air besar, gangguan pencernaan, bahkan paralysis atau kelumpuhan pada lengan dan kelesuan.

 

LANGKAH ANTISIPASI

            Lalu bagaimana caranya ya agar terhindar dari ancaman bahaya tersebut? Ok, alangkah baiknya bersikap selektif dalam menentukan bahan pangan maupun memilih penjualnya. Kepercayaan kita pada pedagang otomatis membuat kita percaya pada kualitas barang dagangannya. Begitu juga sarana penyimpanan bahan pangan tersebut selama diperdagangkan. Menurut Ali, sejauh pengamatannya, selama ini baru pedagang besar sekelas supermarket yang menyediakan kondisi ideal bagi produk-produk hewani yang mudah rusak (lemari pendingin khusus). Begitu juga sayuran yang ditaruh di rak khusus secara teratur disiram dengan air segar. Belum lagi sikap selektif mereka saat memilih supplier yang bisa memasok bahan pangan dengan kualitas prima.

            Namun itu semua akan percuma jika dalam pengolahan bahan makanan kita tidak memperhatikan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Termasuk mencuci bahan pangan menggunakan air bersih yang mengalir, memasak pangan hewani hingga matang sempurna, disamping memperhatikan kebersihan wadah atau perabot untuk memasak maupun sanitasi lingkungan saat memasak serta tempat penyimpanan makanan yang  sudah matang.

 

 

(sumber:nakita)